Rumah Tani – Bulan Februari 2026 menjadi perhatian serius bagi sektor pertanian India, terutama karena Gelombang Panas yang datang lebih awal dari biasanya dan menghantam wilayah utara seperti Punjab dan Haryana. Dua wilayah ini dikenal sebagai lumbung gandum utama India, bahkan berkontribusi besar terhadap pasokan gandum global. Ketika Gelombang Panas terjadi pada fase pertumbuhan kritis tanaman, dampaknya bukan hanya dirasakan petani lokal, tetapi juga dapat memengaruhi stabilitas harga pangan dunia. Suhu maksimum yang tercatat 3–4°C di atas normal dengan kisaran 25–30°C di siang hari menjadi sinyal bahwa Gelombang Panas ini bukan fenomena biasa.
Fenomena Gelombang Panas pada Februari ini terasa semakin mengkhawatirkan karena datang di saat tanaman gandum sedang memasuki fase penting pertumbuhan. Biasanya, bulan Februari di dataran utara India masih berada dalam suhu relatif sejuk, namun Gelombang Panas kali ini mengubah pola tersebut secara drastis. Para petani mengaku tanaman terlihat “cepat tua” dan daun mulai menunjukkan gejala stres, yang menjadi indikasi awal dampak negatif dari Gelombang Panas terhadap produktivitas.
Kondisi ini mengingatkan banyak pihak pada kejadian serupa beberapa tahun lalu ketika Gelombang Panas ekstrem menyebabkan penurunan hasil panen yang signifikan. Ketika suhu naik terlalu cepat dan bertahan dalam durasi lama, tanaman gandum tidak memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan proses pengisian biji secara optimal. Oleh karena itu, Gelombang Panas di bulan Februari ini dinilai sebagai ancaman nyata bagi ketahanan pangan.
Risiko Gelombang Panas terhadap Tanaman Gandum
Tanaman gandum atau Triticum aestivum pada dasarnya merupakan tanaman musim dingin yang tumbuh optimal pada suhu 10–20°C. Dalam rentang suhu tersebut, proses fisiologis tanaman berlangsung dengan efisien, mulai dari fotosintesis hingga pembentukan biji. Namun ketika Gelombang Panas mendorong suhu melewati ambang optimal, tanaman mengalami stres panas yang berdampak langsung pada produktivitas.
Gelombang Panas yang terjadi saat fase pembungaan dan pengisian butir (grain filling) sangat berbahaya karena tahap ini menentukan jumlah dan berat biji yang akan dipanen. Ketika suhu terlalu tinggi, proses fotosintesis menurun drastis. Tanaman tidak mampu memproduksi energi dalam jumlah cukup untuk mendukung perkembangan biji. Akibatnya, Gelombang Panas menyebabkan biji menjadi lebih kecil dan ringan dibanding kondisi normal.
Selain itu, Gelombang Panas juga mempercepat proses pematangan secara paksa. Tanaman yang seharusnya memiliki waktu lebih panjang untuk mengisi biji, justru “dipaksa” matang lebih cepat. Dampaknya bukan hanya pada kuantitas, tetapi juga kualitas gandum, termasuk kadar protein dan kemampuan penggilingan. Inilah alasan mengapa Gelombang Panas menjadi momok menakutkan bagi petani gandum di Punjab dan Haryana.
Baca Juga : Mengenal Penyakit Layu Bakteri pada Tanaman Hortikultura
Dampak Nyata Gelombang Panas di Punjab dan Haryana
Di wilayah Punjab dan Haryana, Gelombang Panas Februari 2026 menciptakan kondisi cuaca yang tidak biasa. Tidak hanya suhu siang hari yang tinggi, suhu malam pun meningkat sehingga tanaman tidak mendapatkan waktu “istirahat” alami. Normalnya, suhu malam yang lebih rendah membantu tanaman memulihkan diri dari tekanan panas siang hari, namun Gelombang Panas kali ini menghilangkan kesempatan tersebut.
Petani melaporkan bahwa selama Gelombang Panas berlangsung, daun tanaman tampak menggulung dan warna hijau mulai memudar lebih cepat. Gejala ini merupakan tanda klasik stres panas yang memengaruhi sistem metabolisme tanaman. Jika kondisi Gelombang Panas bertahan lebih lama, potensi penurunan hasil bisa mencapai 10–15%, bahkan lebih tergantung intensitasnya.
Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa Gelombang Panas pada Februari–Maret 2022 menyebabkan India membatasi ekspor gandum demi menjaga pasokan dalam negeri. Keputusan tersebut berdampak pada pasar global karena India merupakan salah satu produsen gandum terbesar dunia. Situasi ini memperlihatkan bagaimana Gelombang Panas di satu wilayah dapat memiliki konsekuensi ekonomi internasional yang luas.
Mekanisme Ilmiah Dampak Gelombang Panas
Secara ilmiah, Gelombang Panas memengaruhi tanaman gandum melalui beberapa mekanisme utama. Pertama, suhu tinggi meningkatkan laju respirasi tanaman sehingga energi yang dihasilkan dari fotosintesis justru habis untuk mempertahankan hidup, bukan untuk pertumbuhan biji. Kondisi ini menyebabkan pengisian butir tidak optimal selama Gelombang Panas.
1 comment
[…] Gelombang Panas di Bulan Februari Mengancam Produksi… […]