Pertanian

Arsitektur Morfologi dan Fisiologi Tanaman Terong

Arsitektur Morfologi dan Fisiologi Tanaman Terong

Permukaan daun Terong, terutama bagian bawahnya, ditutupi oleh bulu-bulu halus yang memberikan tekstur seperti beludru. Bulu ini membantu mengurangi laju transpirasi dan melindungi daun dari serangan serangga penghisap cairan. Dengan struktur daun seperti ini, Terong mampu beradaptasi dengan lingkungan yang panas.

Peran Daun dalam Produksi Biomassa Terong

Daun Terong berperan sebagai pusat produksi energi melalui proses fotosintesis. Luas permukaan daun yang besar memungkinkan tanaman menghasilkan biomassa dalam jumlah besar dalam waktu relatif singkat. Energi yang dihasilkan kemudian dialokasikan untuk pertumbuhan batang, akar, bunga, dan buah Terong.

Namun, luas daun yang besar juga berarti laju transpirasi Terong cukup tinggi, terutama pada siang hari. Oleh karena itu, ketersediaan air yang stabil menjadi faktor penting dalam budidaya tanaman ini. Kekurangan air dapat menyebabkan daun layu dan mengganggu proses fotosintesis pada Terong.

Baca Juga : Mengenal Lebih Dekat Apa Itu Rice Grassy Stunt Virus (RGSV)

Dengan manajemen air dan nutrisi yang tepat, daun Terong dapat berfungsi secara optimal sepanjang siklus hidup tanaman. Daun yang sehat akan mendukung pembentukan bunga dan buah yang berkualitas, sehingga hasil panen Terong menjadi lebih maksimal.

Fisiologi Reproduksi Tanaman Terong

Siklus reproduksi Terong dimulai dengan pembentukan kuncup bunga di ketiak daun, biasanya pada umur 28–45 hari setelah tanam. Waktu munculnya bunga ini dipengaruhi oleh varietas, kondisi lingkungan, serta teknik budidaya yang diterapkan. Bunga menjadi tahap awal yang sangat menentukan keberhasilan produksi buah Terong.

Bunga Terong tergolong bunga sempurna karena memiliki organ kelamin jantan dan betina dalam satu struktur. Hal ini memungkinkan terjadinya penyerbukan sendiri, meskipun bantuan serangga penyerbuk tetap sangat berperan dalam meningkatkan keberhasilan pembuahan. Dengan sistem ini, Terong memiliki peluang reproduksi yang cukup tinggi.

Keberhasilan fase reproduksi Terong sangat bergantung pada keseimbangan nutrisi dan kondisi lingkungan. Suhu yang terlalu ekstrem atau kekurangan unsur hara dapat mengganggu pembentukan bunga dan menurunkan potensi hasil buah Terong secara signifikan.

Anatomi Bunga Terong

Bunga Terong memiliki mahkota berjumlah 5–8 helai yang tersusun menyerupai bentuk bintang. Warna mahkota bervariasi mulai dari putih, lembayung, hingga ungu tua, tergantung varietasnya. Warna yang menarik ini berfungsi untuk menarik serangga penyerbuk agar mendekat ke bunga Terong.

Benang sari pada bunga Terong berjumlah lima dan memiliki anther yang membuka melalui pori terminal. Mekanisme ini memerlukan getaran untuk melepaskan serbuk sari secara optimal, sebuah proses yang dikenal sebagai buzz pollination. Lebah merupakan salah satu penyerbuk alami yang sangat efektif bagi Terong.

Baca Juga : Biologi, Siklus Hidup, dan Dampak Ganda Serangan Wereng Batang Coklat (WBC)

Struktur bunga Terong yang unik ini menunjukkan adanya hubungan erat antara tanaman dan lingkungan sekitarnya. Interaksi dengan serangga penyerbuk menjadi faktor penting dalam memastikan proses pembuahan berjalan lancar dan menghasilkan buah Terong yang sempurna.

Fenomena Heterostili dan Dampaknya pada Terong

Heterostili merupakan fenomena variasi panjang putik pada bunga Terong dibandingkan dengan posisi benang sari. Fenomena ini sangat berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan pembentukan buah. Dalam praktiknya, tidak semua bunga Terong memiliki peluang yang sama untuk menjadi buah.

Bunga Terong dengan tipe putik panjang memiliki tingkat fruit set tertinggi karena posisi kepala putik memudahkan penerimaan serbuk sari. Sementara itu, bunga dengan putik sedang memiliki tingkat keberhasilan moderat dan sangat bergantung pada aktivitas penyerbuk.

Sebaliknya, bunga Terong dengan putik pendek umumnya bersifat steril dan tidak mampu membentuk buah. Kondisi lingkungan yang kurang ideal, seperti stres suhu atau kekurangan nutrisi, dapat meningkatkan proporsi bunga putik pendek sebagai mekanisme penghematan energi pada Terong.

Karakteristik Buah dan Biji Terong

Buah Terong berkembang dari ovarium setelah terjadinya pembuahan dan tergolong buah buni dengan daging tebal serta berair. Kulit buah umumnya berwarna ungu akibat kandungan antosianin yang juga berfungsi sebagai antioksidan alami. Kandungan ini menjadikan Terong tidak hanya lezat, tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan.

Daging buah Terong berwarna putih atau putih kehijauan dengan tekstur empuk. Di dalamnya terdapat banyak biji kecil yang tersebar merata. Tekstur dan rasa buah sangat dipengaruhi oleh varietas serta kondisi pertumbuhan tanaman Terong.

Biji Terong berukuran kecil, pipih, dan berwarna cokelat muda. Biji ini berfungsi sebagai alat perbanyakan generatif dan memiliki peran penting dalam kelangsungan siklus hidup tanaman Terong. Dengan pemahaman menyeluruh tentang buah dan bijinya, budidaya Terong dapat dilakukan secara lebih efektif dan berkelanjutan.

Baca Informasi Lengkap Lainnya Seputar Dunia Pertanian Hanya di Buletin Pertanian Agrinow!

Related posts

Pengelolaan Mikroklimat: Kunci Menciptakan Lingkungan Sehat, Nyaman, dan Produktif di Berbagai Sektor

Rumah Tani

Peran Tembaga dan Mancozeb dalam Pengendalian Penyakit Tanaman

Rumah Tani

Memahami Teknik Pencampuran Pestisida

Rumah Tani

2 comments

Ekologi dan Mekanisme Kerusakan Hama Tanaman Terong di Lahan Tropis Indonesia 20 Desember 2025 at 07:19

[…] Arsitektur Morfologi dan Fisiologi Tanaman Terong […]

Reply
Penyakit Tanama Terong yang Paling Merugikan dan Cara Memahaminya Sejak Dini 4 Januari 2026 at 23:57

[…] Arsitektur Morfologi dan Fisiologi Tanaman Terong […]

Reply

Leave a Comment