Rumah Tani – Dalam dunia budidaya lele, ancaman Penyakit bakteri sering menjadi momok paling menakutkan bagi pembudidaya, baik skala rumahan maupun komersial. Serangan bakteri dapat datang secara tiba-tiba dan menimbulkan kerugian besar dalam waktu singkat, bahkan hanya dalam hitungan 24–48 jam. Banyak pembudidaya yang awalnya mengira ikan masih sehat, namun mendadak terjadi kematian massal tanpa tanda yang jelas. Oleh karena itu, memahami patologi Penyakit bakteri, mekanisme infeksi, serta gejala klinisnya menjadi langkah penting agar pembudidaya mampu melakukan pencegahan dan penanganan secara tepat sejak dini.
Pada dasarnya, sebagian besar bakteri penyebab Penyakit pada lele merupakan patogen oportunistik yang selalu ada di lingkungan perairan. Bakteri ini sebenarnya tidak selalu berbahaya, tetapi akan berubah menjadi ancaman serius ketika kondisi ikan menurun akibat stres, kualitas air yang buruk, kepadatan tebar terlalu tinggi, atau manajemen pakan yang tidak optimal. Dalam kondisi tersebut, sistem imun ikan melemah sehingga bakteri lebih mudah masuk dan berkembang biak. Inilah sebabnya mengapa pemahaman tentang faktor pemicu Penyakit sama pentingnya dengan mengenali gejalanya.
Pada bagian ini kita akan membahas secara rinci beberapa Penyakit bakteri utama yang sering menyerang lele, mulai dari Motile Aeromonas Septicemia (MAS), Edwardsiellosis, hingga Cotton Wall Disease atau Penyakit Columnaris. Setiap bagian akan dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap akurat dan berdasarkan data ilmiah, sehingga dapat menjadi panduan terpercaya bagi pembudidaya dalam menghadapi ancaman Penyakit bakteri di kolam budidaya.
Motile Aeromonas Septicemia (MAS)
Motile Aeromonas Septicemia atau MAS merupakan salah satu Penyakit bakteri paling merusak dalam budidaya lele. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila, yang dikenal memiliki tingkat virulensi tinggi dan mampu menyebabkan kematian massal dalam waktu singkat. Bakteri ini sebenarnya selalu ada di perairan, namun akan menjadi sangat berbahaya ketika ikan mengalami stres atau kondisi lingkungan memburuk. Oleh karena itu, MAS sering muncul secara tiba-tiba dan sulit dikendalikan jika tidak segera ditangani.
Buku ini memuat berbagai aspek tentang budi daya ikan lele di kolam terpal yang disampaikan secara ringkas sehingga mudah untuk dipahami oleh peternak pemula.
Rp. 35.000
Mekanisme infeksi Penyakit MAS sangat berkaitan dengan kemampuan bakteri dalam menghasilkan berbagai faktor virulensi, seperti eksotoksin aerolisin dan hemolisin. Zat-zat berbahaya ini mampu merusak pembuluh darah dan jaringan tubuh ikan, sehingga menyebabkan pendarahan internal dan eksternal. Secara klinis, ikan yang terinfeksi menunjukkan gejala khas berupa bercak merah atau hemoragi pada bagian perut, pangkal sirip, serta di sekitar mulut. Gejala ini sering menjadi tanda awal Penyakit yang dapat diamati langsung oleh pembudidaya di kolam.
Baca Juga : Strategi Formulasi Pakan Mandiri dan Manajemen Mutu untuk Pembudidaya Lele Berkelanjutan
Selain perubahan fisik, Penyakit MAS juga memengaruhi perilaku ikan secara signifikan. Ikan yang terinfeksi biasanya berenang tidak normal, seperti posisi tubuh vertikal di permukaan air atau berputar-putar sebelum akhirnya mati. Perilaku ini menandakan adanya gangguan serius pada sistem saraf dan keseimbangan tubuh ikan. Jika tidak segera diisolasi dan ditangani, bakteri penyebab Penyakit ini dapat menyebar dengan cepat ke ikan lain dalam satu kolam, sehingga meningkatkan angka kematian secara drastis.
Patologi Organ Dalam pada Kasus Motile Aeromonas Septicemia
Untuk memahami tingkat keparahan Penyakit MAS, pemeriksaan organ dalam atau bedah bangkai sering dilakukan. Hasilnya menunjukkan adanya pembengkakan pada organ vital seperti ginjal dan hati, dengan warna yang cenderung pucat atau disertai pendarahan kecil berbentuk petekie. Kondisi ini menandakan bahwa bakteri telah menyebar secara sistemik melalui aliran darah, menyebabkan infeksi menyeluruh atau septikemia yang sangat berbahaya.
Secara mikroskopis, Penyakit MAS ditandai dengan infiltrasi sel radang dan nekrosis pada jaringan parenkim hati. Sel-sel hati yang seharusnya berfungsi untuk metabolisme dan detoksifikasi mengalami kerusakan parah, sehingga fungsi tubuh ikan menurun drastis. Akibatnya, ikan menjadi lemah, mudah stres, dan tidak mampu melawan infeksi lanjutan. Kerusakan jaringan ini juga menjelaskan mengapa ikan yang terkena Penyakit MAS sering mati dalam waktu singkat.
Penanganan Penyakit MAS memerlukan pendekatan yang terkontrol dan bertanggung jawab. Penggunaan antibiotik seperti Oxytetracycline (OTC) dengan dosis 50 mg per kg pakan selama 7–10 hari sering direkomendasikan, namun harus dilakukan sesuai aturan agar tidak menimbulkan resistensi. Selain itu, beberapa pembudidaya juga memanfaatkan bahan alami seperti perasan mengkudu atau daun jambu biji sebagai alternatif pendukung. Kombinasi manajemen lingkungan yang baik dan terapi yang tepat menjadi kunci utama dalam mengendalikan Penyakit ini.
Baca Juga : Pakan Alternatif Berbasis Protein Nabati dan Hijauan untuk Budidaya Ikan Lele
Edwardsiellosis
Edwardsiellosis merupakan Penyakit bakteri lain yang tak kalah berbahaya dalam budidaya lele, yang disebabkan oleh Edwardsiella tarda. Keunikan bakteri ini terletak pada kemampuannya bertahan hidup di dalam sel fagosit inang, sehingga sulit dieliminasi oleh sistem imun ikan. Akibatnya, infeksi sering berlangsung secara perlahan namun pasti, dan baru terdeteksi ketika kondisi ikan sudah cukup parah.
Gejala klinis awal Penyakit Edwardsiellosis biasanya berupa perubahan warna kulit menjadi pucat atau depigmentasi, disertai penurunan nafsu makan. Pada tahap selanjutnya, muncul luka terbuka atau ulser pada bagian dorsal maupun abdominal tubuh ikan. Luka ini tidak hanya merusak tampilan fisik ikan, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi patogen lain, sehingga memperparah kondisi Penyakit secara keseluruhan.
Salah satu ciri khas Penyakit ini adalah kerusakan serius pada organ dalam, terutama organ metabolisme seperti hati. Infeksi yang berlangsung beberapa hari dapat menyebabkan ikan terlihat lesu, sering diam di dasar kolam, dan akhirnya mati jika tidak segera ditangani. Oleh karena itu, pengenalan gejala awal Edwardsiellosis sangat penting agar pembudidaya dapat melakukan tindakan pencegahan sebelum Penyakit berkembang lebih parah.