Perikanan

Memahami Mekanisme Infeksi dan Gejala Klinis Penyakit Bakteri pada Budidaya Lele

Memahami Mekanisme Infeksi dan Gejala Klinis Penyakit Bakteri pada Budidaya Lele

Penelitian histopatologi menunjukkan bahwa Penyakit Edwardsiellosis menyebabkan pembengkakan masif pada hati sekitar hari ke-5 pasca infeksi. Warna hati berubah menjadi pucat, menandakan gangguan fungsi metabolisme yang serius. Kondisi ini berdampak langsung pada kemampuan ikan dalam mengolah nutrisi dan energi, sehingga daya tahan tubuhnya semakin menurun.

Secara mikroskopis, jaringan hati ikan yang terkena Penyakit ini menunjukkan tanda-tanda nekrosis seperti piknosis, yaitu pengerutan inti sel, dan karyolisis, yaitu lisis atau hancurnya inti sel. Selain itu, terlihat adanya kongesti pembuluh darah yang menghambat sirkulasi darah normal. Kerusakan jaringan yang meluas ini menjelaskan mengapa Penyakit Edwardsiellosis sering berujung pada kematian meskipun gejalanya tampak ringan di awal.

Respons defensif ikan terhadap Penyakit ini juga terlihat dari produksi lendir atau mukus yang berlebihan. Lendir berfungsi sebagai pelindung alami, namun jika produksinya terlalu banyak dan menutupi lamela insang, pertukaran gas akan terganggu. Akibatnya, ikan mengalami kesulitan bernapas dan bisa mati akibat gagal napas. Kondisi ini menunjukkan bahwa Penyakit Edwardsiellosis tidak hanya menyerang satu organ, tetapi memengaruhi sistem tubuh ikan secara menyeluruh.

Cotton Wall Disease atau Penyakit Columnaris pada Lele

Cotton Wall Disease atau yang lebih dikenal sebagai Penyakit Columnaris disebabkan oleh bakteri Flexibacter columnaris. Penyakit ini mudah dikenali dari munculnya lapisan putih menyerupai kapas pada permukaan kulit, sirip, atau sekitar mulut ikan. Penampakan ini sering membuat pembudidaya langsung menyadari adanya masalah serius di kolam, terutama ketika kondisi air sedang buruk.

Bakteri penyebab Penyakit Columnaris sangat menyukai lingkungan dengan suhu air tinggi dan beban organik yang berlebihan. Sisa pakan, kotoran ikan, dan kurangnya pergantian air menjadi faktor utama yang mempercepat pertumbuhan bakteri ini. Ketika bakteri berhasil mengkolonisasi jaringan insang, kerusakan filamen insang pun terjadi, sehingga kemampuan ikan untuk mengambil oksigen dari air menurun drastis.

Gejala Penyakit ini tidak hanya terbatas pada perubahan fisik, tetapi juga terlihat dari perilaku ikan yang sering megap-megap di permukaan air. Kondisi ini menandakan adanya gangguan pernapasan akibat kerusakan insang. Jika tidak segera ditangani, Cotton Wall Disease dapat menyebar dengan cepat dan menyebabkan kematian massal, terutama pada kolam dengan kepadatan tinggi.

Baca Juga : Pakan Alternatif Berbasis Protein Hewani untuk Budidaya Ikan Lele

Penanganan dan Pencegahan Penyakit Columnaris secara Tepat

Pengobatan Penyakit Columnaris umumnya dilakukan melalui perendaman ikan dalam larutan Oxytetracycline (OTC) dengan dosis 3–5 ppm selama 12–24 jam. Metode ini bertujuan untuk menekan populasi bakteri pada permukaan tubuh dan insang ikan. Namun, penggunaan antibiotik harus dilakukan dengan hati-hati dan sesuai dosis agar tidak menimbulkan dampak negatif jangka panjang.

Hal penting yang perlu diperhatikan dalam penanganan Penyakit ini adalah masa henti konsumsi ikan setelah pengobatan. Ikan yang telah direndam antibiotik tidak boleh dikonsumsi setidaknya dua minggu setelah terapi selesai, guna memastikan residu obat benar-benar hilang. Langkah ini penting untuk menjaga keamanan pangan dan kesehatan konsumen.

Selain pengobatan, pencegahan Penyakit Columnaris jauh lebih efektif dan ekonomis. Menjaga kualitas air tetap stabil, mengontrol pemberian pakan, serta melakukan siphon rutin untuk mengurangi beban organik merupakan langkah sederhana namun sangat berdampak. Dengan manajemen kolam yang baik, risiko munculnya Penyakit ini dapat ditekan secara signifikan.

Strategi Menghadapi Penyakit Bakteri pada Budidaya Lele

Secara keseluruhan, Penyakit bakteri pada budidaya lele merupakan ancaman serius yang tidak boleh dianggap remeh. MAS, Edwardsiellosis, dan Columnaris masing-masing memiliki mekanisme infeksi dan gejala klinis yang berbeda, namun semuanya dapat menyebabkan kerugian besar jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Pemahaman mendalam tentang patologi Penyakit ini menjadi modal utama bagi pembudidaya dalam mengambil keputusan yang benar di lapangan.

Baca Juga : Karakteristik dan Manajemen Aplikasi Pakan Utama Pabrikan untuk Budidaya Lele Intensif

Pendekatan terbaik dalam menghadapi Penyakit bakteri adalah kombinasi antara pencegahan dan pengobatan yang bijak. Menjaga kualitas air, mengurangi stres ikan, serta menerapkan biosekuriti yang baik akan memperkuat daya tahan ikan terhadap infeksi. Sementara itu, penggunaan antibiotik sebaiknya menjadi pilihan terakhir dan dilakukan secara terkontrol agar efektivitasnya tetap terjaga.

Dengan pengetahuan yang cukup dan manajemen budidaya yang baik, Penyakit bakteri bukan lagi ancaman yang menakutkan, melainkan tantangan yang bisa dihadapi dengan percaya diri. Semoga artikel ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat dan membantu pembudidaya lele dalam menjaga kesehatan ikan serta keberhasilan usaha budidayanya secara berkelanjutan.

Baca Informasi Lengkap Lainnya Seputar Dunia Pertanian Hanya di Buletin Pertanian Agrinow!

Related posts

Dissolved Oxygen (Oksigen Terlarut)

Rumah Tani

Menelisik Regulasi Ekspor Ikan dan Produk Perikanan Indonesia: Potensi, Tantangan, dan Masa Depan yang Berkelanjutan

Rumah Tani

Mengenal Jenis-Jenis Ikan Lele di Indonesia

Rumah Tani

Leave a Comment