Gudang penyimpanan pakan idealnya dirancang agar tetap kering, sejuk, dan terlindung dari sinar matahari langsung. Paparan sinar matahari yang berlebihan dapat merusak kandungan vitamin dalam pakan, terutama vitamin A, D, dan E. Suhu ideal gudang berkisar antara 25–32°C dengan tingkat kelembapan maksimal 70%, sehingga risiko pertumbuhan jamur dapat ditekan.
Ventilasi yang baik juga sangat penting dalam penyimpanan pakan. Sirkulasi udara yang lancar akan mencegah akumulasi panas dan kelembapan di dalam gudang. Selain itu, penggunaan palet kayu setinggi 5–15 cm dari lantai merupakan standar wajib agar pakan tidak langsung bersentuhan dengan lantai yang lembap. Cara sederhana ini terbukti efektif mencegah penyerapan air dari tanah atau lantai kolam.
Dengan standarisasi gudang yang baik, kualitas pakan dapat dipertahankan lebih lama. Pembudidaya tidak perlu sering membuang pakan rusak, sehingga kerugian dapat diminimalkan. Investasi kecil dalam perbaikan gudang sering kali memberikan dampak besar terhadap efisiensi usaha budidaya ikan.
Sistem Manajemen Stok Pakan: FIFO dan FEFO
Selain kondisi gudang, sistem pengelolaan stok pakan juga tidak boleh diabaikan. Prinsip First In First Out (FIFO) memastikan bahwa pakan yang pertama kali masuk gudang akan digunakan lebih dulu. Dengan cara ini, risiko pakan menumpuk terlalu lama dan mengalami penurunan kualitas dapat dihindari.
Prinsip lain yang tak kalah penting adalah First Expired First Out (FEFO), terutama untuk pakan pabrikan yang memiliki tanggal kedaluwarsa jelas. pakan yang mendekati masa kedaluwarsa harus diprioritaskan untuk digunakan lebih awal. Umumnya, pakan pabrikan memiliki masa simpan optimal sekitar 21–30 hari setelah segel dibuka, sehingga pembudidaya harus benar-benar disiplin dalam pengelolaannya.
Untuk pakan mandiri atau pakan alternatif, kadar air menjadi faktor kunci dalam masa simpan. Pelet mandiri sebaiknya memiliki kadar air di bawah 10% agar tidak mudah berjamur selama penyimpanan. Dengan penerapan FIFO dan FEFO yang konsisten, pembudidaya dapat memastikan bahwa pakan yang diberikan ke ikan selalu dalam kondisi terbaik.
Inovasi Pakan di Sentra Budidaya Jawa Timur
Jawa Timur dikenal sebagai salah satu pusat budidaya lele nasional, dengan daerah seperti Jombang, Tulungagung, dan Kediri sebagai sentra produksi utama. Di wilayah ini, tantangan biaya pakan justru mendorong lahirnya berbagai inovasi yang menarik. Pembudidaya tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dengan pendekatan yang kreatif dan adaptif.
Di Jombang, misalnya, Heri Purnomo menjadi contoh nyata pembudidaya yang sukses mengelola ratusan kolam dengan mengandalkan pakan alternatif berbasis telur infertil dari perusahaan peternakan lokal. Telur infertil yang sebelumnya dianggap limbah kini diolah menjadi pakan bernilai tinggi. Dengan strategi ini, ia mampu memanen 1 hingga 1,4 ton lele setiap hari secara berkelanjutan.
Inovasi pakan seperti ini tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi yang positif. Penyerapan tenaga kerja lokal meningkat, pasokan lele ke kota besar seperti Surabaya dan Semarang menjadi lebih stabil, dan rantai pasok pakan menjadi lebih mandiri. Hal ini membuktikan bahwa inovasi pakan dapat menjadi kunci keberhasilan budidaya lele skala besar.
Efisiensi Pakan dan Manajemen Budidaya di Tulungagung dan Kediri
Di Tulungagung, khususnya Desa Gondosuli, pembudidaya menghadapi tantangan kenaikan harga pakan yang sempat mencapai Rp420.000 per sak 30 kg. Untuk mengatasi hal ini, banyak peternak fokus pada peningkatan efisiensi pemeliharaan air dan penggunaan probiotik. Dengan kualitas air yang terjaga, pemanfaatan pakan oleh ikan menjadi lebih optimal.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pakan berkualitas tinggi akan memberikan hasil maksimal jika didukung oleh manajemen lingkungan yang baik. Air yang bersih dan stabil membantu ikan mencerna pakan dengan lebih efisien, sehingga pertumbuhan tetap cepat meskipun jumlah pakan ditekan. Strategi ini terbukti mampu menjaga produktivitas di tengah tekanan biaya.
Sementara itu, di Kediri, pengembangan varietas lele mutiara dengan sistem sirkulasi air intensif menjadi contoh integrasi pakan berkualitas dan teknologi budidaya modern. Dengan kombinasi pakan berprotein tinggi dan manajemen air yang baik, hasil panen meningkat signifikan. Model ini tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga mendukung program ketahanan pangan dan pencegahan stunting melalui penyediaan sumber protein hewani yang terjangkau.
Baca Informasi Lengkap Lainnya Seputar Dunia Pertanian Hanya di Buletin Pertanian Agrinow!