Rumah Tani – Kebakaran Hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan bukan sekadar persoalan api yang membakar vegetasi dan meninggalkan lahan hitam. Setiap musim kemarau, persoalan ini dapat berkembang menjadi masalah ekologis, kesehatan, sosial, dan ekonomi yang memengaruhi kehidupan masyarakat dalam skala luas. Kondisi geografis Kalimantan membuat sejumlah wilayahnya sangat rentan terhadap kebakaran, terutama kawasan yang memiliki hamparan tanah gambut. Ketika musim kemarau berlangsung panjang, gambut yang kehilangan kandungan air dapat berubah menjadi bahan bakar alami yang sangat mudah menyala. Situasi tersebut semakin rumit ketika masyarakat atau pelaku usaha membuka lahan dengan cara membakar.
Data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) Kementerian Kehutanan menunjukkan bahwa luas lahan terbakar di Kalimantan mengalami perubahan cukup tajam dari tahun ke tahun. Pada 2022, luas Karhutla tercatat sekitar 24.562 hektare. Angka tersebut kemudian melonjak hingga 508.403 hektare pada 2023 ketika fenomena El Niño kuat memperburuk kondisi kemarau. Pemerintah dan berbagai pihak kemudian berhasil menekan luas kebakaran pada 2024 hingga sekitar 65.608 hektare dan kembali mencatat penurunan menjadi 55.717 hektare pada 2025. Namun, kondisi pada 2026 kembali menunjukkan tantangan serius karena luas area terbakar telah melampaui 57.081 hektare hingga Juni. Angka tersebut menunjukkan bahwa masyarakat dan pemerintah masih menghadapi ancaman besar, terutama ketika musim kering semakin panjang dan kondisi lahan semakin mudah terbakar.
Tren Kebakaran Hutan di Kalimantan dari Tahun ke Tahun
Perubahan luas Karhutla dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa fenomena ini tidak berjalan secara konstan. Kondisi cuaca memainkan peran besar dalam menentukan tingkat kerawanan suatu wilayah. Pada 2022, kemarau yang relatif basah membantu menjaga kelembapan lahan sehingga api tidak mudah menyebar dalam skala luas. Kondisi tersebut membuat luas area terbakar berada pada angka sekitar 24.562 hektare. Namun, situasi berubah drastis pada 2023. Fenomena El Niño yang kuat meningkatkan suhu dan memperpanjang periode kering di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi tersebut membuat vegetasi lebih mudah terbakar dan mempercepat penyebaran api. Pada tahun itu, luas Karhutla melonjak hingga sekitar 508.403 hektare. Lonjakan tersebut memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh faktor iklim terhadap risiko kebakaran, terutama ketika kondisi iklim bertemu dengan lahan yang telah mengalami degradasi.
Pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan kemudian meningkatkan upaya pencegahan dan pengendalian. Kondisi cuaca yang lebih mendukung pada 2024 juga membantu menekan luas area terbakar hingga sekitar 65.608 hektare. Penurunan tersebut menunjukkan bahwa intervensi pengendalian kebakaran dapat memberikan hasil ketika pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait bergerak secara bersamaan. Pada 2025, luas area terbakar kembali turun menjadi sekitar 55.717 hektare. Meskipun penurunan tersebut menjadi perkembangan positif, angka itu tetap menunjukkan bahwa ancaman kebakaran belum menghilang. Masyarakat masih perlu menjaga lahan, memperbaiki tata kelola gambut, serta mengantisipasi peningkatan risiko ketika memasuki musim kemarau.
Situasi pada 2026 kembali menarik perhatian karena luas area terbakar telah melampaui 57.081 hektare hanya sampai Juni. Angka tersebut menunjukkan peningkatan yang cukup cepat dalam waktu relatif singkat. Jika kondisi kering terus berlangsung, risiko perluasan area terdampak dapat meningkat. Pemerintah perlu memperkuat pemantauan titik panas, patroli lapangan, kesiapsiagaan pemadam, dan pengelolaan tata air gambut sejak sebelum puncak musim kemarau. Masyarakat juga memiliki peran penting dengan menghindari aktivitas pembakaran lahan dan segera melaporkan kemunculan api. Upaya pencegahan jauh lebih efektif daripada menunggu api membesar karena kebakaran di kawasan gambut dapat bergerak cepat dan sulit dikendalikan.
Baca Juga : Klasifikasi Habitus Tumbuhan Tropis Indonesia
Kalimantan Barat Menjadi Salah Satu Wilayah yang Paling Terdampak
Kalimantan Barat menghadapi tekanan Karhutla yang cukup besar. Wilayah ini mencatat luas kebakaran lebih dari 38.310,89 hektare dengan 1.836 titik panas/hotspot. Sejumlah daerah seperti Ketapang, Kubu Raya, Mempawah, dan Sanggau mengalami kondisi yang perlu mendapat perhatian khusus. Pemantauan satelit juga membantu petugas menemukan titik panas atau hotspot yang tersebar di berbagai lokasi. Hotspot sendiri tidak selalu berarti api pasti membakar lahan karena satelit mendeteksi anomali suhu permukaan. Namun, peningkatan jumlah hotspot dapat menjadi sinyal penting bagi petugas untuk melakukan pemeriksaan dan tindakan lebih cepat.
Karakteristik lahan turut memengaruhi tingkat kerawanan di Kalimantan Barat. Beberapa kawasan memiliki lahan gambut yang dapat menyimpan karbon dalam jumlah besar. Ketika masyarakat mengeringkan gambut melalui kanal atau melakukan pembukaan lahan tanpa pengelolaan air yang baik, kelembapan tanah dapat menurun secara signifikan. Kondisi tersebut membuat material organik di permukaan dan bawah tanah lebih mudah terbakar. Api kemudian tidak hanya bergerak di atas permukaan, tetapi juga dapat menjalar melalui lapisan gambut. Pola seperti ini membuat petugas menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan kebakaran vegetasi biasa.
Kondisi tersebut membuat pencegahan menjadi strategi yang sangat penting bagi Kalimantan Barat. Pemerintah daerah, masyarakat, perusahaan, dan kelompok relawan perlu membangun sistem peringatan dini yang mampu merespons titik api sejak awal. Petugas juga perlu memprioritaskan wilayah dengan riwayat kebakaran tinggi dan kondisi gambut yang sangat kering. Masyarakat dapat membantu dengan mengurangi aktivitas yang berpotensi memicu api, terutama saat cuaca panas dan angin kencang. Langkah sederhana seperti menjaga kelembapan lahan dan melaporkan api kecil secara cepat dapat membantu mencegah kebakaran berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
Baca Juga : Hutan dan Masa Depan Iklim Global: Dari Penyerap Karbon hingga Penyelamat Kehidupan
Kalimantan Tengah dan Ancaman Kebakaran di Ekosistem Gambut
Kalimantan Tengah juga menghadapi risiko Karhutla yang tinggi, khususnya pada kawasan gambut. Beberapa wilayah seperti Palangkaraya, Pulang Pisau, Kapuas, Kotawaringin Timur, dan Kotawaringin Barat memiliki kawasan yang rentan terhadap kebakaran ketika musim kemarau. Gambut menyimpan bahan organik dalam jumlah besar sehingga masyarakat perlu mengelolanya dengan hati-hati. Ketika kondisi basah tetap terjaga, gambut relatif sulit terbakar. Sebaliknya, ketika air menghilang dari lapisan tanah akibat kemarau atau sistem drainase yang tidak terkendali, gambut dapat berubah menjadi sumber bahan bakar yang sangat mudah terbakar.
Kebakaran pada lahan gambut juga memiliki karakteristik yang menyulitkan proses pemadaman. Api dapat membakar lapisan permukaan sekaligus menjalar di bawah tanah. Petugas mungkin melihat permukaan yang tampak aman, tetapi bara masih bergerak di bawahnya. Kondisi tersebut memungkinkan api muncul kembali di lokasi yang sebelumnya terlihat sudah padam. Petugas membutuhkan air dalam jumlah cukup, pemantauan berulang, serta pemetaan area terbakar untuk memastikan api benar-benar berhenti. Masyarakat juga perlu memahami karakteristik tersebut agar tidak menganggap lahan yang tampak tidak berasap sebagai lahan yang sepenuhnya aman.
Pengelolaan tata air menjadi salah satu kunci pencegahan di kawasan gambut Kalimantan Tengah. Kanal yang mengalirkan air keluar dari kawasan gambut dapat mempercepat proses pengeringan ketika masyarakat tidak mengatur tata air dengan baik. Pemerintah dan pengelola lahan dapat menerapkan sekat kanal atau canal blocking untuk membantu mempertahankan air di kawasan gambut. Pendekatan tersebut tidak hanya membantu mengurangi risiko kebakaran, tetapi juga mendukung pemulihan fungsi ekologis gambut. Dengan menjaga gambut tetap lembap, masyarakat dapat mengurangi salah satu faktor utama yang membuat lahan mudah terbakar.
Kalimantan Selatan, Timur, dan Utara Juga Menghadapi Risiko
Kalimantan Selatan menghadapi persoalan Karhutla dengan karakteristik yang tidak kalah serius. Data menunjukkan lebih dari 1.900 kejadian dengan luas area terdampak mencapai sekitar 9.088 hektare. Angka tersebut menggambarkan luasnya tantangan yang harus dihadapi pemerintah daerah dan masyarakat. Setiap kejadian memang memiliki skala berbeda, tetapi akumulasi kebakaran dapat memberikan dampak besar terhadap kualitas udara, aktivitas masyarakat, dan kondisi lingkungan. Pemantauan wilayah rawan perlu berjalan secara konsisten agar petugas dapat menangani sumber api sebelum api menyebar.
Sementara itu, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara juga menyumbang ribuan titik panas meskipun skalanya relatif lebih rendah dibandingkan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Perbedaan jumlah hotspot tidak berarti wilayah tersebut dapat mengabaikan risiko. Kondisi cuaca, jenis vegetasi, aktivitas pembukaan lahan, serta karakteristik geografis dapat membuat satu titik api berkembang dengan cepat dalam situasi tertentu. Karena itu, pemerintah daerah tetap perlu mempertahankan sistem pemantauan dan kesiapsiagaan, terutama ketika indikator cuaca menunjukkan peningkatan risiko.
Masyarakat di seluruh provinsi Kalimantan juga perlu memahami bahwa pengendalian kebakaran bukan hanya tugas petugas pemadam. Warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan dan lahan memiliki posisi penting karena mereka dapat mengenali perubahan kondisi lingkungan lebih cepat. Ketika seseorang menemukan asap atau api, laporan cepat kepada pihak berwenang dapat mempercepat penanganan. Masyarakat juga dapat membantu melalui kegiatan patroli bersama, menjaga sumber air, dan menghindari pembakaran terbuka. Kolaborasi semacam ini dapat memperkuat sistem pencegahan sekaligus mengurangi beban petugas di lapangan.
Baca Juga : Pengertian Ekosistem Hutan dan Perannya bagi Kehidupan
Mengapa Lahan Gambut Sangat Mudah Terbakar?
Lahan gambut memiliki karakteristik yang berbeda dari tanah mineral biasa. Gambut terbentuk dari akumulasi material organik yang mengalami proses penguraian secara sangat lambat dalam kondisi basah. Material tersebut menyimpan banyak karbon dan dapat mempertahankan kelembapan ketika kondisi lingkungan tetap stabil. Namun, manusia dapat mengubah karakteristik tersebut melalui pembukaan lahan dan pembangunan kanal drainase. Ketika kanal mengalirkan air keluar dari kawasan gambut, permukaan air tanah dapat turun dan lapisan gambut perlahan mengering. Pada musim kemarau, proses tersebut membuat risiko kebakaran meningkat secara signifikan.
Gambut yang kering dapat bertindak seperti bahan bakar. Api yang muncul pada permukaan dapat menyebar melalui material organik dan masuk ke lapisan bawah tanah. Pola ini membuat proses pemadaman jauh lebih sulit karena petugas harus menangani sumber panas yang tidak selalu terlihat dari permukaan. Angin juga dapat mempercepat penyebaran api di area terbuka. Ketika kondisi tersebut bertemu dengan vegetasi kering dan suhu tinggi, satu titik api dapat berkembang menjadi kebakaran luas dalam waktu singkat.