JOMBANG — Universitas Negeri Malang (UM) mendorong petani kopi Wonosalam, Kabupaten Jombang, untuk meningkatkan kemampuan mengenali kualitas sekaligus menelusuri asal-usul kopi melalui program “Citizen Scientist Coffee Quality: Pengembangan Kapasitas Sensory Evaluation dan Sistem Traceability Berbasis Komunitas Petani Kopi Wonosalam.”
Program ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026, dengan dukungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Dipimpin Melati Julia Rahma, M.Ling., program ini melibatkan Megasari Noer Fatanti, M.I.Kom. dari bidang Ilmu Komunikasi dan Prof. Jati Batoro dari bidang Biologi. Tim juga didukung Sumber Wandhe Coffee Lab dan melibatkan Anvesaka Research Group.
Melati mengatakan program tersebut dirancang agar petani tidak hanya menjadi penghasil kopi, tetapi juga mampu mengenali dan mendokumentasikan kualitas kopi dari kebun mereka.
“Petani memiliki pengetahuan yang sangat kaya tentang kebunnya. Kami ingin mempertemukan pengetahuan tersebut dengan metode ilmiah, sehingga pengalaman petani dapat menjadi data untuk memahami kualitas kopi,” ujar Melati.
Belajar Mengenali Cita Rasa Kopi
Melalui pelatihan sensory evaluation, petani diajak mengenali aroma, rasa, tingkat keasaman, body, aftertaste, dan karakter sensori lainnya. Penilaian dilakukan secara lebih terstruktur sehingga petani dapat mengenali perbedaan karakter kopi dari kebun mereka.
Selain itu, tim memperkenalkan sistem traceability yang memungkinkan perjalanan kopi didokumentasikan mulai dari lokasi kebun, budidaya, pemanenan, hingga pengolahan.
“Setiap kopi memiliki cerita, mulai dari kebun, petani, lingkungan tempat tumbuh, hingga proses pengolahannya. Traceability membantu cerita tersebut terdokumentasi dengan lebih baik,” kata Melati.
Menghubungkan Kopi, Biodiversitas, dan Komunikasi
Aspek lingkungan diperkuat melalui peran Prof. Jati Batoro yang melakukan identifikasi pohon penaung dan pengamatan biodiversitas pada kebun kopi. Informasi tersebut menjadi bagian dari upaya memahami hubungan antara lingkungan agroforestri dan karakter kopi.
Sementara itu, Megasari Noer Fatanti, M.I.Kom. mengembangkan strategi komunikasi partisipatif, materi edukasi, serta pelatihan storytelling. Petani didorong mampu menyampaikan karakter, asal-usul, dan keunikan kopi mereka kepada konsumen maupun pelaku usaha.
Baca Juga : UM Luncurkan MOOC Sekolah Kopi Liberoid untuk Angkat Potensi Kopi Lokal dan Perkuat Ekonomi Petani
Melalui pendekatan lintas disiplin ini, petani ditempatkan sebagai citizen scientist yang tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi turut mengamati, mencatat, dan menggunakan data mengenai kopi dan lingkungan kebunnya.
Program ini diharapkan dapat memperkuat identitas kopi Wonosalam dengan menghubungkan cita rasa, asal-usul, biodiversitas, dan pengetahuan petani dalam satu cerita produk.
Baca Informasi Lengkap Lainnya Seputar Dunia Pertanian Hanya di Buletin Pertanian Agrinow!