JOMBANG — Universitas Negeri Malang (UM) mendorong petani di Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, untuk meningkatkan kemampuan dalam mengenali kualitas sekaligus menelusuri asal-usul produk pertanian mereka. Melalui program “Citizen Scientist Coffee Quality: Pengembangan Kapasitas Sensory Evaluation dan Sistem Traceability Berbasis Komunitas Petani Kopi Wonosalam”, UM mengajak petani memahami produk dari kebun secara lebih mendalam, mulai dari karakter rasa hingga perjalanan hasil panen dari hulu sampai ke konsumen.
Program tersebut menjadi bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026. Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. UM mengembangkan program dengan pendekatan lintas disiplin agar petani tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai produksi, tetapi juga mampu mengumpulkan, membaca, dan memanfaatkan informasi dari kebun mereka sendiri.
Tim pelaksana program menghadirkan Melati Julia Rahma, M.Ling. sebagai ketua, bersama Megasari Noer Fatanti, M.I.Kom. dari bidang Ilmu Komunikasi dan Prof. Jati Batoro dari bidang Biologi. Sumber Wandhe Coffee Lab serta Anvesaka Research Group turut mendukung kegiatan tersebut. Kolaborasi berbagai bidang itu membuat program tidak hanya membahas rasa dan mutu hasil panen, tetapi juga menghubungkan aspek lingkungan, biodiversitas, komunikasi, serta cerita di balik produk yang dihasilkan petani Wonosalam.
Petani Wonosalam Didorong Mengenali Kualitas dari Kebunnya Sendiri
Melati Julia Rahma menjelaskan bahwa program tersebut ingin menempatkan petani sebagai bagian penting dalam proses pengenalan kualitas. Menurutnya, petani memiliki pengalaman panjang dalam mengamati kebun, tanaman, kondisi lingkungan, waktu panen, hingga proses pengolahan. Tim UM kemudian mempertemukan pengalaman tersebut dengan metode ilmiah agar pengetahuan yang selama ini tersimpan dalam pengalaman sehari-hari dapat berkembang menjadi data yang lebih terstruktur.
Pendekatan tersebut membuat petani tidak hanya berperan sebagai penghasil komoditas. Mereka juga dapat menjadi pengamat yang memahami karakter hasil panen dari kebunnya sendiri. Petani dapat mencatat berbagai informasi yang berkaitan dengan tanaman, lingkungan, proses budidaya, serta hasil pengolahan. Data tersebut kemudian dapat membantu mereka memahami alasan munculnya karakter tertentu pada produk yang mereka hasilkan.
Melati menilai pengalaman petani memiliki nilai penting dalam memahami mutu hasil perkebunan. Petani mengenal kondisi lahannya secara langsung dan mengetahui perubahan yang terjadi sepanjang musim. Ketika pengalaman tersebut bertemu dengan metode ilmiah, petani memiliki kesempatan untuk membangun pemahaman yang lebih kuat mengenai hubungan antara kondisi kebun dan karakter produk. Pendekatan inilah yang menjadi salah satu dasar konsep citizen scientist dalam program tersebut.
Baca Juga : Pengertian, Karakteristik, Sebaran, dan Peran Penting Gambut bagi Lingkungan Indonesia
Konsep citizen scientist memberi ruang kepada masyarakat untuk ikut terlibat dalam kegiatan pengamatan dan pengumpulan data. Dalam konteks Wonosalam, petani tidak hanya menerima materi dari akademisi. Mereka juga melakukan pengamatan, mencatat temuan, serta menggunakan informasi tersebut untuk memahami kebun dan hasil panen. Dengan cara itu, proses pembelajaran berlangsung dua arah antara pengetahuan akademik dan pengalaman masyarakat.
Pelatihan Sensory Evaluation Bantu Petani Membaca Karakter Rasa
Salah satu kegiatan utama program UM tersebut berfokus pada sensory evaluation atau evaluasi sensori. Pelatihan ini mengajak petani mengenali berbagai karakter yang muncul pada hasil seduhan secara lebih terstruktur. Petani belajar memperhatikan aroma, rasa, tingkat keasaman atau acidity, body, aftertaste, serta karakter sensori lain yang dapat muncul dari hasil pengolahan.
Selama ini, konsumen sering menggunakan istilah seperti harum, pahit, asam, ringan, atau kuat ketika menggambarkan minuman yang mereka konsumsi. Evaluasi sensori membantu petani melihat karakter tersebut secara lebih sistematis. Mereka dapat belajar membedakan karakter rasa berdasarkan pengamatan yang lebih terarah sehingga pengalaman mencicipi tidak berhenti pada penilaian suka atau tidak suka.
Kemampuan tersebut dapat membantu petani memahami perbedaan karakter hasil panen dari satu kebun dengan kebun lainnya. Faktor lingkungan, varietas tanaman, tingkat kematangan buah, teknik panen, serta proses pascapanen dapat memengaruhi hasil akhir. Dengan melakukan pengamatan secara konsisten, petani memiliki peluang lebih besar untuk menemukan pola yang berkaitan dengan kualitas produk mereka.
Baca Juga : UM Dampingi Petani Kopi Liberika-Excelsa Wonosalam untuk Tingkatkan Mutu Kopi Specialty
Pengetahuan tentang karakter rasa juga dapat membantu petani ketika berkomunikasi dengan pembeli atau pelaku usaha. Mereka dapat menjelaskan produk berdasarkan karakter yang mereka amati, bukan hanya berdasarkan nama wilayah. Informasi yang lebih spesifik dapat membuat cerita produk menjadi lebih kuat dan membantu konsumen memahami keunikan hasil perkebunan dari Wonosalam.
Sistem Traceability Telusuri Perjalanan Produk dari Kebun hingga Konsumen
Selain evaluasi sensori, UM memperkenalkan sistem traceability kepada komunitas petani. Sistem tersebut memungkinkan petani mendokumentasikan perjalanan produk sejak berada di kebun hingga melalui berbagai tahap pengolahan. Informasi dapat mencakup lokasi kebun, metode budidaya, proses pemanenan, hingga tahapan pengolahan setelah panen.
Traceability memiliki peran penting karena konsumen semakin membutuhkan informasi mengenai asal-usul produk yang mereka konsumsi. Informasi mengenai lokasi kebun dan proses produksi dapat memberikan gambaran lebih lengkap tentang sebuah produk. Dalam konteks Wonosalam, sistem tersebut juga dapat membantu menghubungkan produk dengan identitas wilayah dan pengalaman petani yang mengelolanya.
Melati menjelaskan bahwa setiap hasil perkebunan memiliki cerita yang berasal dari kebun, petani, lingkungan tempat tumbuh, serta proses pengolahan. Sistem penelusuran membantu petani menyimpan cerita tersebut secara lebih teratur. Catatan yang tersusun dengan baik dapat menjadi sumber informasi ketika petani memperkenalkan produknya kepada konsumen, kedai, roastery, maupun pelaku usaha lainnya.
Penerapan traceability juga dapat membantu petani membangun kebiasaan pencatatan. Petani dapat mendokumentasikan kegiatan budidaya dan pengolahan secara lebih konsisten. Dalam jangka panjang, catatan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat perubahan kualitas dari waktu ke waktu. Petani juga dapat membandingkan hasil dari proses yang berbeda dan menentukan pendekatan yang sesuai dengan kondisi kebun mereka.
Biodiversitas Jadi Bagian dari Cerita Kopi Wonosalam
Program tersebut tidak hanya melihat kualitas dari sisi rasa. Tim UM juga memasukkan aspek lingkungan melalui pengamatan biodiversitas di kawasan kebun. Prof. Jati Batoro dari bidang Biologi berperan dalam identifikasi pohon penaung dan pengamatan lingkungan agroforestri yang terdapat pada kebun petani.
Pohon penaung memiliki peran dalam sistem agroforestri karena tanaman perkebunan dapat tumbuh berdampingan dengan vegetasi lain. Kondisi lingkungan seperti ini menjadi bagian dari ekosistem kebun yang perlu dipahami. Tim kemudian menghubungkan informasi mengenai lingkungan dengan upaya memahami karakter hasil panen secara lebih menyeluruh.
Pendekatan tersebut memberikan sudut pandang bahwa kualitas sebuah produk tidak hanya berkaitan dengan proses setelah pemanenan. Kondisi tempat tanaman tumbuh juga menjadi bagian dari cerita. Karakter lingkungan, keberadaan tanaman lain, pengelolaan lahan, dan praktik budidaya dapat menjadi informasi penting ketika petani mendokumentasikan produk mereka.
Pengamatan biodiversitas juga membuka peluang bagi petani untuk mengenali kebun sebagai sebuah ekosistem. Petani dapat memahami bahwa tanaman utama tidak berdiri sendiri, tetapi berinteraksi dengan vegetasi dan lingkungan di sekitarnya. Pengetahuan tersebut dapat memperkaya cerita mengenai hasil perkebunan Wonosalam sekaligus mendorong perhatian terhadap pengelolaan lingkungan.
Baca Juga : UM Luncurkan MOOC Sekolah Kopi Liberoid untuk Angkat Potensi Kopi Lokal dan Perkuat Ekonomi Petani
Komunikasi dan Storytelling Bantu Petani Menyampaikan Cerita Produk
Tim UM juga menaruh perhatian pada kemampuan komunikasi petani. Megasari Noer Fatanti, M.I.Kom. mengembangkan strategi komunikasi partisipatif, materi edukasi, serta pelatihan storytelling untuk membantu petani menyampaikan karakter dan asal-usul produk kepada masyarakat luas.
Storytelling menjadi penting karena konsumen tidak selalu melihat produk hanya dari rasa atau harga. Mereka juga dapat tertarik pada cerita mengenai siapa yang menanam, dari mana produk berasal, bagaimana petani merawat kebun, serta proses apa yang mereka lakukan setelah panen. Cerita yang jelas dapat membantu konsumen memahami nilai yang terdapat di balik sebuah produk.
Petani Wonosalam dapat menggunakan informasi dari evaluasi sensori, traceability, dan pengamatan biodiversitas sebagai bahan cerita. Mereka dapat menjelaskan karakter produk sekaligus menunjukkan hubungan antara produk tersebut dengan wilayah asalnya. Pendekatan seperti ini dapat membuat identitas produk lebih mudah dikenali tanpa menghilangkan pengalaman dan pengetahuan lokal yang dimiliki petani.
Kemampuan komunikasi juga dapat membuka ruang interaksi yang lebih dekat antara petani dan pelaku usaha. Ketika petani mampu menjelaskan karakter produk secara langsung, mereka dapat berdiskusi lebih baik mengenai kebutuhan pasar, karakter hasil yang diinginkan, serta proses yang mereka lakukan di tingkat kebun. Komunikasi tersebut dapat membantu membangun hubungan usaha yang lebih informatif.
Menggabungkan Pengetahuan Petani dengan Metode Ilmiah
Program “Citizen Scientist Coffee Quality” menggunakan pendekatan lintas disiplin untuk mempertemukan beberapa jenis pengetahuan. Bidang lingkungan dan biodiversitas memberikan informasi mengenai kondisi ekosistem kebun. Evaluasi sensori membantu petani mengenali karakter hasil panen. Sistem traceability membantu mencatat perjalanan produk, sedangkan komunikasi dan storytelling membantu menyampaikan informasi tersebut kepada konsumen.
Pendekatan tersebut menempatkan petani sebagai pelaku utama dalam proses pembelajaran. Tim akademisi memberikan metode, pendampingan, dan kerangka ilmiah, sementara petani membawa pengalaman langsung mengenai kebun mereka. Pertemuan kedua sumber pengetahuan itu dapat menghasilkan informasi yang lebih relevan dengan kondisi lapangan.
Petani juga dapat menggunakan hasil pengamatan untuk melakukan evaluasi secara berkelanjutan. Mereka dapat membandingkan catatan dari musim berbeda, memperhatikan perubahan karakter, serta menghubungkan hasil tersebut dengan praktik budidaya dan pengolahan. Proses ini membuat kegiatan pengabdian tidak berhenti pada pelatihan, tetapi mendorong terbentuknya kebiasaan pengamatan dan pencatatan.
Konsep tersebut juga memperlihatkan bahwa penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dapat berjalan bersama. Akademisi tidak hanya menyampaikan teori, sedangkan petani tidak hanya menerima materi. Kedua pihak dapat saling bertukar pengetahuan dan membangun pemahaman berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
Memperkuat Identitas Kopi Wonosalam
Program UM tersebut pada akhirnya ingin memperkuat identitas produk Wonosalam dengan menghubungkan rasa, asal-usul, biodiversitas, dan pengetahuan petani dalam satu cerita. Identitas wilayah dapat menjadi semakin kuat ketika petani mampu menjelaskan apa yang membuat produk dari daerah mereka memiliki karakter tersendiri.
Wonosalam memiliki lingkungan perkebunan yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat. Ketika petani mendokumentasikan lokasi kebun, proses budidaya, kondisi lingkungan, teknik panen, pengolahan, hingga karakter rasa, mereka membangun rekam jejak yang dapat membantu memperkenalkan produk secara lebih lengkap.
Dokumentasi tersebut juga dapat menjadi aset pengetahuan bagi komunitas. Generasi berikutnya dapat memanfaatkan catatan yang tersedia untuk memahami praktik kebun dan perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Dengan demikian, kegiatan pencatatan tidak hanya berguna untuk kebutuhan pemasaran, tetapi juga dapat mendukung keberlanjutan pengetahuan lokal.
Pada sisi lain, kemampuan mengenali kualitas dapat membantu petani memahami potensi produk mereka secara lebih baik. Mereka dapat mengetahui karakter yang muncul dari hasil pengolahan dan menggunakan informasi tersebut saat berinteraksi dengan konsumen atau pelaku usaha. Petani pun memiliki dasar informasi yang lebih kuat ketika menceritakan produk yang mereka hasilkan.
Langkah Menuju Petani sebagai Citizen Scientist
Program pengabdian UM di Wonosalam menunjukkan pendekatan yang lebih luas dalam mengembangkan kapasitas masyarakat. Petani tidak hanya dipandang sebagai produsen yang menjalankan kegiatan budidaya, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang dapat mengamati dan menghasilkan data dari lingkungan mereka sendiri.
Baca Juga : Menapaki Jejak dan Makna Hari Kopi Nasional
Konsep citizen scientist memberi kesempatan kepada petani untuk mengambil peran lebih aktif. Mereka dapat mengamati tanaman, mencatat kondisi kebun, mengenali karakter hasil panen, mendokumentasikan proses pengolahan, serta menyampaikan informasi kepada pihak lain. Semua kegiatan tersebut dapat membantu membangun pemahaman yang lebih lengkap mengenai produk dan lingkungan tempat produk tersebut berasal.
Melalui kolaborasi antara UM, petani, Sumber Wandhe Coffee Lab, dan Anvesaka Research Group, program ini menggabungkan pendekatan akademik dengan pengalaman masyarakat. Tim menghubungkan ilmu komunikasi, biologi, evaluasi sensori, traceability, serta pengetahuan lokal dalam satu rangkaian kegiatan.
Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi petani sebagai pemilik pengetahuan sekaligus pengelola sumber daya di tingkat kebun. Petani Wonosalam tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menjelaskan kualitas, asal-usul, lingkungan, dan cerita yang menyertainya.